Pages

Minggu, 23 Oktober 2016

Tempus: Latar Belakang



Aku suka mendengarkan cerita seseorang yang sedang jatuh cinta. Tapi aku nggak suka novel dan film romantis... suka sih tapi ya not my priority gitu. Aku lebih suka fantasy, sih.

Kalo drama korea mah beda lagi ya. Tolong ya. Itu levelnya beda wkwkwk.

Ada sesuatu yang begitu personal, begitu polos, lucu, dan indah pada diri orang yang jatuh cinta. Cobain deh rasain. Energinya berbeda. Gimana kamu melihat mereka tersenyum Cuma karena nyebut nama si doi. Atau antusiasme mereka saat menceritakan kembali kejadian bersama si doi. Hal-hal seperti itu, aku suka.

Sering aku ditanya apakah aku juga menyukai seseorang. Biasanya aku balas dengan senyum lalu aku lanjut dengan candaan dan percakapan mengenai siapa orang yang kusuka akan berhenti disitu. Lalu kita mulai membicarakan hal-hal lainnya. Memang hal itu aku lakukan on purpose.

Bukan menghindar, sih. Cuma aku agak memilah-milah aja sih karena aku suka permainan yang ‘rapih’.  Biar berfaedah. Hmm.

Faedah gundulmu.

Oke lanjut. Jadi aku tertarik buat bikin semacam anthology gitu. Sok kaga ada kerjaan lain banget emang aku ini bikin-bikin anthology. Woy urusin anthology asli lo! Urusin post berbayar di blog lo! Urusin artikel konten lo! Urusin itu imperialism imperialism shit lo! Seketika gua inget bu Safrina. Untung doi lagi ke Jepang...

Jadi hidup itu harus bahagia mamen. Harus escape. Ngurusin kerjaan mulu mah bisa mati muda saya.

Judul Anthology yang mau aku bikin ini.. apa ya. Bentar saya mikir dulu.

*semenit kemudian* Dapet nih judulnya. Tempus. Asik ga judulnya?

Ini bukan semacam hasil olahan kacang kedelai gitu geng. Tempus itu bahasa apaya lupa.. yah pokonya artinya ‘waktu’. Aduh maaf ya otak saya lagi riet males nyari Tempus itu bahasa apa. Pernah denger aja disuatu tempat. Bahasa latin sih kalo gasalah. Nanti deh aku cari lagi.

Jadi aku sangat menghargai waktu yang aku habiskan bersama diriku sendiri maupun orang yang aku sayang. Percayalah, time is free but priceless. Once you spend it, you will never get it back. Spend it wisely. Jadi semoga yah, akang teteh adek-adek semua yang baca tulisan ini, please be honest. For what? Yah.. for everything.

“Lo udah jujur, Dhel?”
“Belom. HAHAHAHAHA”

Yah saya akan belajar buat lebih jujur lagi, teman.

Yang aku bahas di anthologhy ini ya macem-macem. Mostly tentang cinta sih HAHAHAHA #hoek. Tolong ya jangan terlalu skeptis sama cinta. Aku juga sama. Ngerasa ‘apa sih cinta-cintaan mulu’ tapi pikiran kayak begitu itu.. punten, sempit. Da cinta mah bukan tentang hubungan 2 orang yang saling berhasrat memiliki satu sama lain and stuffs. More than that. Karena gua pribadi, merasa pergerakan hidupku itu mostly kulakukan karena cinta. I did it for the love.

Aku nggak mau munafik ya, aku sering banget komen "Naon sih riweh" "Cicing ih ngomongin cinta mulu" sama orang-orang tapi pada kenyataannya, kalo denger lagu galau jadi baper. Gua punya perasaan, okay? Tapi besoknya gitu lagi. Ada yang bilang 'cinta-cinta' langsung naik darah wkwk.

Passion. That’s love. I love writing. You could tell. Why I still here? That’s for love. So.. love is an ocean. You can swim, drown, sail, fish, and do everything. Some people are afraid of being drowned but that’s how you will learn how to dive.

Lah banyak cakap sekali saya ini. Ok lanjut.

Terus cerita siapa aja yang bakal diangkat dan siapa yang bakal nulis? Everyone. Cerita yang menurutku deep enough menurut standar estetikaku untuk kemudian masuk list di anthology ini. Yang nulis, bebas. Nanti bakal aku arahkan biar at least nyambung satu sama lain. Tapi yah mostly bakal ditulis sama aku. Tiap cerita wajib pakai nama samaran. Ingat ya, main ‘rapih’. Boleh didramatisir tapi biasa aja. Gausah sampe ada naga ngapung juga.

Udah ya. See you on the first chapter!

Sabtu, 16 April 2016

Aku akan kredit mobil mulai tahun depan

Tadi siang aku ke UPI buat rapat divisi. Tadinya kita mau ngumpul dibelakang FPBS tapi lagi banyak yang upgrading jadi kita pindah ke belakang museum. Aku nggak mau ikut upgrading karena suatu alasan
"Adhel bisa naik motor, kan?" kata teh Fira.
"mmmm...."
Aku bisa naik motor, kok. Bisa tapi...
Aku pernah nabrak angkot sampe lampu sen pecah, aku pernah kepleset pas lagi ngerem, pernah ambruk pas lagi nyetandarin, dan gabisa parkir basement.
"Bisa teh cuma aku nggak mau bawa motor ke UPI" kataku kemudian.
"Loh, kenapa?"
"gapapa ehehehehe"
Elva tau aku nggak bakat naik motor. Makanya dia nggak pernah ngebolehin aku nyentuh motornya. Buat sekedar ngeng dari ujung jalan ke ujung yang satu lagi aja nggak boleh.
Aku sadar kok aku nggak bakat naik motor. Aku juga nggak terlalu suka naik motor. Aku mah emang udah terlahir naik mobil gyahahahaha #dilemparbukuSAC.
Tapi meskipun aku nggak suka naik motor, aku suka dibonceng Hasyul. Hasyul is the best rider I've ever met lah. Aku sering maksa dia nganterin aku les pas SMA. Maaf ya Hasyul tapi kamu ikhlas kan wkwk. Sampe kita disangka pacaran sama anak sekolahan. Gosip aku dan Hasyul pacaran menyebar sampe kelas lain. Sampai kalo aku lewat pasti ada yang bilang "Dhel, selamat ya" "._____. nggak ih kalian salah paham"
Oke balik lagi. Hasyul tuh sumpah enakeun banget bawa motornya. Aku pikir tadinya karna motor dia bagus. Tapi pas dia pake motor matic biasa, tetep enakeun. Hasyul kamu berbakat jadi tukang ojek.
Yang nggak berbakat naik motor tuh Zahra. Sumpah ya Zahra tuh kampret banget. Dia tuh kalo ada polisi tidur malah digas. Aku suka marah marah ke dia.
"Zah woy ada gua dibelakang!" teriakku saat dia malah ngegas pas polisi tidur.
"Oh iya aku lupa kalo lagi bonceng kamu hahahaha" kata dia.
Tapi sehabis itu kalo ada polisi tidur tetep digas.
Beda sama Elva. Elva tuh ugal ugalan kalo naik motor. Semua orang diklaksonin. Udah kaya orang gila. Aku suka takut sendiri kalo dibonceng Elva.
I have a very clear view bahwa aku dan motor nggak akan pernah nyambung. Aku sudah membuat rencana untuk mulai kredit mobil tahun depan. Mobil yang murah aja. Rencananya sih Mini Cooper.
Terus berhubung Elva punya sim A  aku akan mempekerjakan Elva sebagai sopir pribadi aku. Sip! rencana yang sempurna.

Jumat, 15 April 2016

In response to Muhammad Rafely's Mannequin Manner

Kayaknya aku baru deh punya temen kayak Fely.

 

Aku tau Elva itu orangnya pingakakeun, tapi Fely mah beda. Elva tuh polos. Tipe orang yang beneran polos sampe segala hal yang dia lakuin tuh jadi bahan ketawaan. Nah kalo Fely mah beda. Aku nggak tau sebenernya dia sengaja membuat guyonan atau apalah-apalah, tapi semua hal yang dia ucapkan dan lakukan itu genrenya jadi humor. Baik Elva maupun Fely, dua-duanya punya otak warteg. Begitu sederhana. Aku dan Putri sudah merundingkan, kalo UPI itu adalah Hogwarts, sudah dipastikan mereka berdua masuk ke Hufflepuff.

 

Pernah Fely bilang gini ke aku, “Adhel kenapa suka Rafely?”

 

Coba kamu bayangin jadi aku. Lagi ngeret-ngeret bangku buat kelas spiking, eh ada yang nanya begitu. Aku Cuma bilang “Aku nggak suka kamu Fely. Jangan GR” sambi keketawaan. Aku ceritain ke Putri dan reaksi dia juga sama.

 

Sumpah deh. Kayak yang akuteh kemarin bilang suka ke Fely, terus Fely kepikiran dan nanya ke aku kenapa aku suka dia. Tapi kenyataannya nggak gitu. Kenyataannya, aku nggak bilang ke Fely kalo aku suka sama dia. Aku dan Fely pun bukan sedang dalam masa PDKT. Aku yang ditanya aja nggak merasa kalo aku suka Rafely haha. Jadi pertanyaan dia itu sangat-sangat bodor haha. Eh tapi aku nggak tau sih pertanyaan dia menjurus kemana. Kalo ‘suka’nya ‘suka’ biasa, iya aku suka Fely. Putri juga suka Fely. Fely itu bodor. Pertanyaannya juga bodor. Tapi aku rasa kebodorannya karena yang nanya itu Fely. Coba kalo yang nanya Mas Al.

 

“Mba Adhel kenapa suka aku?”

 

Bisa-bisa Mas Al aku lempar pake buku sastra yang ada di SAC. Kamu harus tau tebelnya segimana. Mas Al bisa masuk UGD.

 

Atau TM.

 

“Mba Adhel kenapa suka aku?”

“TM sini, deh” sambil nuntun TM ke balkon. Dorong. TM jatuh.

“Kyaaaaaaaaa” teriak TM. Bruk! TM sudah mendarat di tanah.

“Kamu seharusnya menggunakan lidah kamu dengan lebih bijak” kataku lalu pergi.

 

Respon Adhel terhadap cerita pendek karangan Muhammad Rafely yang berjudul ‘Mannequin Manner’

 

Sebagai pembaca, saya sangat menikmati spoof short story yang dibuat oleh saudara Rafely ini. Ceritanya mengalir dan konfliknya terasa sangat renyah. Saya akan mencoba membuat respond essay dengan sudut pandang hubungan cerita dengan pengarangnya.

 

Cerita diawali dengan tokoh yang bernama Wakerstone sedang terlihat berbicara dengan ‘seseorang’. Ternyata ‘seseorang’ tersebut adalah manekin yang tak berambut.

 

Menurut saya, keadaan jiwa Wakerstone mewakili keadaan jiwa pengarangnya. Manekin tak berambut tersebut adalah sebuah simbolisme. Rambut, seperti yang kita tahu, sering disebut sebagai mahkota. Siapa yang biasanya memakai mahkota? Raja? Ratu Pangeran? Princess? Yang penting, salah satu dari mereka. Mahkota menandakan jati diri dan tahta.

 

Tidak adanya mahkota menandakan tidak adanya jati diri dalam diri pengarangnya. Bisa dibuktikan bahwa saudara Rafely kerap kali mengganti nama akun Line-nya. Terakhir saya lihat, namanya jadi Kamen Rider OOO. Lalu berubah lagi jadi Deadpool-apa-nggak-tau-saya-lupa.  Pergantian nama Line tersebut akan senantiasa dinamis. Pergantian nama paling fenomenal adalah ketika dalam grup kelas, tiba-tiba ada orang korea dengan nama Raf El Lee. Annyeonghaseo.

 

Lalu saya menemukan karakterisasi yang lebih mendalam malalui dialog yang dilakukan antara Wakerstone dan ibu-ibu. Di dalam cerita, si ibu hendak mebeli manekin dan melihat Wakerstone yang tertidur, lalu dia meminta maaf karena sudah mengganggu waktu tidur Wakerstone. Lalu Wakerstone memperkenalkan tokonya dengan embel-embel ‘small happy mannequin shop’.

 

Lalu terjadi dialog yang membuat saya dan saudari Putri tidak bisa berhenti tertawa tiap kali kami mengingatnya.

 

“How detail it is.. the nose, the eye, the skin, but . . . What is this? No hair?” she said frantically.

“I have a terrible trauma about hair; it gave me an old pain that always beside Me.” said the man in a low voice.

            “I am sorry to hear that honey, how it happens?” the woman said

“It happened 14 years ago, when my mother was murdered in my bedroom. The murderer cut down her scalp and just goes away” said the man.

“Your mother is fine now, God will protects her in the heaven” said the woman.

“Yes ma`am I hope that so . . . now, do you want to buy my mannequins or just asking about my past?”

 

Prediksi saya, si Wakerstone ini Cuma lulus SD. Karena anak yang lulus S1 akan tau caranya berbicara yang santun pada ibu-ibu maupun bapak-bapak. Saya tidak menghakimi anak lulusan SD itu tidak bisa bersopan-santun. Tapi pada kenyataannya, memang begitu. Dan ternyata, si Wakerstone ini memang lulusan SD. Super sekali ya prediksi saya. Saya nggak tau kenapa dia nggak lanjutin ke SMP aja. Kenapa dia buka toko manekin dan buat ratusan manekin.

 

Manekin itu mahal. Dia punya uang darimana? Dan saya bisa bilang jiwa bisnis Wakerstone amat sangat buruk. Dia membuat banyak sekali manekin dan saya asumsikan, tidak ada atau sedikit yang laku. Karena, kalau laku, manekin yang ada di tokonya tidak akan sebanyak itu. Lalu dia tidak akan tidur-tidur di toko karena pasti dia seharusnya sedang membuat manekin kalau manekinnya benar-benar laku.

 

Jadi Wakerstone sesungguhnya tidak cocok bekerja sebagai pembisnis. Mungkin dia harus mulai bekerja di air.

 

Kalau saya boleh melibatkan diri saya dalam cerita, saya akan memposisikan diri saya sebagai si ibu. Si ibu nanya kenapa manekinnya tidak berambut. Saya akan bertanya kenapa saudara Rafely suka gunta-ganti nama Line. Saya tidak melihat manfaatnya dimana.

 

Kalau alasan Wakerstone membuat toko manekin karena dia kesepian, kenapa dia nggak menikah saja? Dia bisa menikah dan menafkahi keluarganya sebagai pekerja air. Itu lebih efisien menurut saya. Lalu apa gerangan alasan saudara Rafely suka gunta-ganti nama Line? Apakah dia juga kesepian? Itu masih menjadi sebuah tanda tanya di otak saya.

 

Tapi bagaimanapun juga, itu spoof short storynya saudara Rafely. Saya sebagai pembaca hanya bisa berkomentar.

 

Feeling saya kuat sekali bahwa keadaan jiwa Wakerstone mewakili keadaan jiwa pengarangnya. Dalam hal ini, Wakerstone digambarkan sebagai seorang yang sangat naif. Dengan santainya Wakerstone menceritakan masa lalunya kepada si ibu. Saya rasa ini berkaitan dengan pengarang yaitu saudara Rafely yang juga naif. Kerap kali pengarang melontarkan ucapan-ucapan yang saya pikir hanya bisa diucapkan oleh anak SD. Tapi ternyata diucapkan oleh mahasiswa semester 2. Saya jadi teringat dengan saudari Elva. Saya bisa bayangkan akan seperti apa kondisi rumah tangga bila saudara Rafely menikah dengan saudari Elva. Saya bisa bayangkan dengan sangat jelas.

 

Cerita berakhir dengan sangat tragis dan mencekam. Wakerstone yang naif, mempekerjakan seseorang pernama Philip yang ternyata adalah pembunuh ibunya dahulu. Wakerstone dibunuh dengan cara yang sama, yaitu dengan ditusuk dan dipotong kulit kepalanya untuk dijadikan rambut manekin.

 

Saya jadi kepikiran sesuatu. Bagaimana caranya memasang kulit kepala ke kepala manekin? Apakah dijahit? Atau dilem pakai super glue? Bagaimanapun juga, ide cerita ini sangatlah menarik. Ceritanya sangatlah misterius, mencekam dan penuh dengan aura horror. Tapi penulis berhasil mengemasnya dengan sangat apik sehingga pembaca menjadi sangat terhibur dan bisa dinikmati oleh pembaca dari segala umur. Terima kasih.

 

Sekian essay yang saya buat. Semoga saudara Rafely tidak memiliki dendam pribadi terhadap saya setelah membaca pos ini. Jangan ada dendam di antara kita, Fel. Sesungguhnya aku hanya herey.

Ngejailin orang baper

Elva itu anaknya baperan.

Sebenernya semua orang juga baperan sih. Tapi bapernya Elva tuh beda gitu. Antara menggemaskan dan bodor dan pengen nakol dan kasian.

Jadi kan kemarin ada EFF. Itu festival yang bukan buat Adhel pokoknya mah. Aku pesen satu bunga buat seseorang (cewek. masa iya ke cowok-,-). Udah aja. Terus akutuh tadinya biasa aja. Tiba tiba muncul niat jail. JAkhirnya aku pesen aja bunga satu lagi buat Elva.

Aku tulislah surat buat Elva. Biar keliatan sincere secret admirer gitu wkwkwkwkwkwk.

Tibalah hari dimana Elva dianterin bunga oleh pj EFF. Aku udah kongkalingkong sama Dewi dulu sebelumnya. Dewi lalu ke atas buat ngambil bunganya.

Setelah itu, aku dan Elva nunggu di depan SAC. Mulailah aku berakting.

"Va kenapa gaada yang suka ke aku" kataku
"Emang ada yang suka ke aku?" kata Elva
"Ada. Itu si xxx" kataku
"-_-"
"Kenapa aku jomblo?" kataku
"Aku juga jomblo" kata Elva
"Kamuma jomblo juga banyak yang mengagumi va. Kamu lewat juga semua mata memandang" kataku
"Halah. Ituma paling mikir 'naha bengetna kitu' " kata Elva
"Engga ih. Kamuteh banyak pisan penggemarnya siyah. Banyak yang kagum ke kamu" kataku
"Nigeleh"

Iya emang geleh. Terus datang aja si Rhena bawa bunga.

" Happy EFF Elva" kata Rhena
"ih jol" kata Elva.
"Ih Elva dapetlah. Ciyee" kataku. Akting. Dalem hati mah keketawaan gakuat.

Lalu Rhena pergi.
"Ih pantesan akuteh punya firasat buruk dari pagi teh. Pekteh beneran dapet" kata Elva.

Lalu kita pergi ke lobby.
"Ih atuh dari siapa ih takuut" kata Elva.

Kita keluar FPBS
"Akuteh udah tenang dari senin teh gadapet. Jol ayeuna dapet" kata dia lagi.
"Jahat ih" kataku

Kita di partere
"Dari siapa ya? Dari Tres** gitu?" katanya lagi.
"Ngapain dia ngasih ke kamu. Emang kamu siapa dia? Kenal kamu juga enggak" kataku.

Wkwkwk. Elva Elva. Entah aku yang jago akting atau kamu yang terlalu polos. Tapi beneran deh kemarin lucu banget. Aku sampe berkali kali malingin muka terus ketawa. Nanti kalo aku ketawa depan dia, dia pasti curiga.

Malemnya aku chat Elva.

"Ca udah dibaca suratnya?"
"Belom ih besok aja wkwk"

Wkwkwk.

Aku kepo reaksi dia kalo baca suratnya wkwkwk. Nanti dia bakal tau siapa sebenarnya dalang dibalik kejadian kemarin. Dan dia bakal ngamuk kalo baca pos ini haha.

Kayaknya aku bakal terus ngejailin Elva sampe aku gabisa ngejailin dia lagi. Soalnya sejauh ini, dia yang paling asik buat dijailin. Tapi dibalik aku yang jail, tersimpan aku yang sayang ke kamu, Ca. Nigeleh ya wkwk. Kamu tau aku udah lama lah. Kamu tau meren jail itu salah satu ekspresi kasih sayang aku. Jadi selama aku masih jail ke kamu, kamu masih orang spesial di hidup aku.

Selamat hari EFF Elca!

Update!! Elca sialan. Dia bohong sama aku ternyata suratnya udah dibaca. Jangan suka baper ya Elca. Akuma anaknya emang hobi bikin orang baper. Tapi aku beneran sayang Elca kok muah:*

Kamis, 14 April 2016

Alfian will get into a trouble if...

If all of our belongings could speak the truth.

***

"Gimana ya kalo semua benda di dunia ini bisa ngomong. Jigana dunia teh berisik pisan"

Siang itu, aku, Putri dan Gina makan cuanki di Al-Furqon. Aku liat ada si memeng lagi nungguin teteh-teteh makan ayam. Ditungguin terus dengan mata yang berbinar-binar. Bukannya ngasih, si teteh malah nutup bekelnya. Ih si teteh jahat amat. Kalo aku jadi teteh mah malah aku kasih ke si mememg ayamnya. Soalnya aku mah bisa beli lagi. Si memeng ma gabisa da gapunya uang.

Aku manggil-manggil si memeng bisi we dia doyan cuanki. Eh nggak di waro. Yaudahlah.

Habis makan cuanki, kita ngobrol ngalor-ngidul. Biasanya yang kita omongin tuh orang-orang yang bodor dikelas. Topik kita siang itu fokus ke short storynya Fely wkwk. Sumpah ya nanti aku bikin postnya deh. Soalnya ngakak banget.

Lanjut, si memeng masih disana. Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu. Kenapa di dunia ini ada kucing.

Kenapa coba?

Emang sih kucing lucu. Tapi fungsinya apa gitu? Kenapa di dunia ini ada kecoa? Ada kelabang? Ada kuskus?

Da mereka semua mah gaakan masuk neraka. Yang masuk neraka mah manusia aja. Yang bisa berdosa kan manusia aja. Kenapa nggak cuma manusia aja yang hidup di dunia ini?

Aku yakin pasti ada suatu alasan. Tapi aku nggak tau apa. Aku harus cari.

"Kenapa di dunia ini banyak makhluk sih..." kata aku. Asli. Banyak banget makhluk aku jadi pusing sendiri.
"Hah?" Putri nyaut.
"Iya kenapa nggak cuma ada manusia aja gitu"
Putri dan Gina diem. Mungkin mikir mungkin nggak peduli.

Aku buka tas buat ambil ipad. Ada pensil Adit yang belom aku balikin.

"Ih pensil si Adit kebawa" kataku.
"Wkwk jadi inget si Alfian sok nyolong pensil batur"
"Masa waktu itu pensil pink aku ilang. Selama 2 bulan. Tiba-tiba sieta dateng bilang 'Dhel, ini punya kamu' sambil ngasih pensil aku yang ilang 2 bulan lalu"
"Si Alfian mah emang jail" kata Gina. Jail kok 2 bulan.

"Gimana ya kalo semua benda di dunia ini bisa ngomong. Jigana berisik pisan" kata Putri.
"wkwkw Geus etama si Alfian tak bisa berkutik" kataku.
"Wkwkwkw. Ceuk si pensil teh 'Naon urangma lain nu maneh' pasti gitu wkwk"

Hahahaha. Tapi aku nggak pengen pensil aku bisa ngomong. Pasti berisik. Apalagi kalo lipstick aku bisa ngomong. Uluh. Dunia yang bisa ngomong cuma makhluk aja udah berisik.

Aku rasa tiap kelas punya orang seperti Alfian. Dulu di SMA aku ada yang suka nyolong properti batur. Namanya Fikry Ali. Dia teh orang kaya da kaya pisan. Kesekolah juga bawa nissan grand livina. Suka nraktir batur. Waktu dia ultah juga dia PHDan di kelas. Dia kalo nyumbang paling gede. Aku pernah nitip barang ke dia juga, dia gamau dibayar. Tapi kenapa gitu dia suka nyolong pensil? Da pensil teh cuman 3 ribu.

Kenapa coba? Kenapa Fikry Ali dan Alfian suka nyolong properti batur? Kenapa di dunia itu banyak banget makhluk?

Kamis, 17 Maret 2016

Adhel dan cowok yang suka musik



Jadi aku akan lebih sangat sering update disini. Bodo amat mau ada yang baca apa enggak. Aku lagi mau profesional sama blog www.blackxugar.com setelah baca-baca grup Sociolla Blogger yang lagi bahas rate card dan sistem pembayaran review.

Jadi ya ginilah. Semua curhatan yang nggak penting, yang sekiranya Cuma aku dan orang-orang yang kenal aku secara personal yang ngerti, akan aku alihkan kesini. Wehehehe.

Tadi pagi, temen aku ada yang ngeshare link yutupnya Leroy Sanchez. Aku nggak buka linknya sih. Tapi nama Leroy Sanchez mengingatkan aku pada suatu percakapan antara aku dan Dimas tahun lalu.

*ceritanya di LINE Chat*
D= Dimas A=Adhel
D: Dhel, gimana udah move on?
A: Belom dim haha
D: Move on atuh dhel di UPI mah banyak kan cowok yang jago main gitar
A: Naha kudu yang jago main gitar?
D: Sugan. Kamu yang suka nu kararitu.
A: Iya ntar aku ke FPSD dulu wkwk
D: Aku doain dhel semoga kamu ditembak sama Leroy Sanchez
A: Aaa.. aku suka Leroy. Amiin wkwkwkwk
D: Naha suka ih? Geleh gitu si Leroy
A: Engga ih
D: Geleh

Tadi dia yang doain aku biar ditembak Leroy, sekarang dia bilang geleh.

Tapi emang sih si Leroy agak (maap ya) kurang ‘cowok’. Wkwk. Ah tapi Leroy suaranya bagus kali, ngegitarnya juga. Terus dia juga suka ngecover lagunya Tori Kelly yang juga sama-sama dewa baik suara dan ngegitarnya. Jadi who cares hah? Who cares??

Ngomongin gitar, aku jadi inget sama omongan temen aku yang di FPTK. Namanya Ryska. Dia jurusan Teknik Arsi.

*Ceritanya di LINE Chat lagi*
R=Ryska A=Adhel
R: Adheeel
A: Apaa kaa?
R: Sini ke FPTK lagi ada acara banyak akang-akang bergitar yang kecee
A: Aku udah di bus gimana atuh?
R: Ah kamuma balik lagi sini. Sumpah inima kamu ngeceng geura

Aku emang lagi di bus. Dan Elva disebelah aku. Terus aku ngasih liat chat aku sama Ryska ke Elva. Aku nanya “Kenapa sih asa orang-orang menuduh aku suka sama cowok yang jago main gitar?” Dan Elva menjawab “Da kamu mah emang sukanya yang kaya gitu, kan?”

Baru beberapa waktu lalu, temen sekelas aku, Putri, nyeletuk “Tipe-tipe cowok yang disukai Adhel mah ketebak banget. Patternnya sama semua”. Aku yang lagi leyeh-leyeh dibilang kayak gitu. Out of the blue. Aku nanya “Yang kayak gimana, emang?”. Lalu Putri jawab “Yang suka musik”

Lalu aku mikir, apakah se-keliatan itukah kesukaan aku sama (cowok yang suka) musik? Soalnya keseharian aku cukup jauh sama musik. Kecuali ngedengerin musik sih. Kalo dulu, pas SMA, pas aku belom terlalu tenggelem sama dunia tulis-menulis, aku emang suka main piano. Suka bukan berarti bisa ya wkwk. Aku juga sering bikin lagu. Kalo sekarang tengah malem sukanya nulis, dulu aku tengah malem sukanya main piano. Apalagi dulu pas SMA, bude di Jakarta jadi aku di rumah sendiri. Kebayang jam 1/2 malem ada suara piano wkwk. Aku kalo main piano volumenya diset ke yang paling kenceng. Sekalian ngejailin tetangga hahahahaha.

Tapi setelah barusan aku pikir-pikir lagi, kata orang-orang yang menuduh aku suka cowok yang suka musik itu ada benernya juga. Kecengan aku pas SD,SMP,SMA, semuanya jago main gitar. Aneh ya. Aku juga baru kepikiran. Kok bisa sama semua gitu. Satu diantaranya bahkan pengen jadi musisi.

Tapi aku rasa wajar sih kalo cewek suka cowok yang jago musik, in my case, guitar. Banyak kok. Yang dikit itu cewek yang suka cowok tukang boong #sambilnyepetseseorang. Dulu, Isti pernah bilang gini “Untung si xxx(kecengan SMA aku) jago main gitar” Aku nanya “Emang kenapa?” Isti jawab “Jadi keliatan ganteng” WAHAHAHAHAH. Jadi kecengan SMA aku tuh nggak ganteng pemirsa wkwk. Untung dia jago gitar. Untung.

Asli dia tuh nggak ganteng, biasa aja. Aku baru menyadarinya setelah aku lama nggak ketemu dan aku juga udah move on. Kemarin banget, aku ketemu dia di Al-Furqon. Dan dia nggak ganteng. Mungkin selama SMA aku buta.

Jadi yah begitu, sih. Aku masih menunggu doa Dimas terkabul. Aku masih menunggu si ‘Leroy Sanchez’ itu wkwk.

Rabu, 16 Maret 2016

HASYUL PUNYA PACAR =)))))))



Saya ulangi pemirsa.

HASUL PUNYA PACAR!

HASYUL PEMIRSA HASYUL!!!! SEORANG HASYUL!!

Hasyul yang itu.. iya yang nyebelinnya kayak muka ultramen. Iya muka ultramen nyebelin buat aku. Kenapa? Hah? Kenapa? Masalah??

Aku merasa kehilangan sosok Hasyul hanya karena dia punya pacar. Ya sedih aja gitu biasanya aku suka ngeledek Hasyul jomblo.. hasyul ngenes.. sekarang nggak bisa lagi. Tinggal nunggu Tebe dan Salfikar punya pacar dan lengkaplah hidup gue sebagai orang jomblo.

Aku nggak tau menahu pacarnya orang mana, kayak gimana. Aku Cuma tau mukanya dan itu juga cuman dari foto yang dikasih sama Hasyul. Cocoklah sama Hasyul. Sepertinya orangnya solehah. Baik, rajin, nggak sombong, pintar mengurus rumah tangga. Wahahaha. Pokoknya impression aku ke dia bagus lah.

Wahahaha.

Aku masih ngakak gila si Hasyul punya pacar. Aku jadi pengen meet up sama Hasyul. Ada banyak cerita hidup aku yang dia lewatkan. Banyak juga kisah hidup dia yang aku lewatkan. Pokoknya karena kesibukan masing-masing, kita jadi jarang ngobrol.

Hasyul aku kangeen..

Kenapa kamu punya pacar nggak bilang-bilang? Jadi aku ketawanya telat wkwk.

Yaampun Hasyul kamu kok bisa punya pacar sih? Cewek kamu khilaf kayanya.

Anyway, selamat ya Hasyul. Semoga sama orang yang saat ini, bisa bikin hidup kamu lebih berwarna. Nggak kusam kayak SMA. Kerjanya galau mulu. Semoga si doi bisa bikin kamu bahagia dan nyaman selalu abadi sentosa. Kalo pacaran sewajarnya ya. Jangan kayak anak anak yang lain yang keluar jalur. Aku percaya Hasyul kok. Aku kenal Hasyul dengan sangat baik. Awas weh kalo berani bikin seorang wanita menangis. Aku musuhin entar. Awas.

Update!!! Aku berhasil mitap sama Hasyul. Hasyul beda banget sekarang. Jadi ganteng... Akhirnya doaku terkabul...


Muah. Peluk Ketjup dari temen Hasyul yang paling menggemaskan